Selasa, 14 Agustus 2012

Waktu Delay Itu Milik Kita!


Aku masih di tempat yang sama, ketika kamu memberikan kecupan tanda perpisahan itu. “Jaga diri baik-baik ya, secepatnya kita akan bertemu lagi,” katamu, sambil tergesa-gesa karena waktu check in hampir habis karena kita nikmati sambil memandang hujan.

“Iya, kamu hati-hati. Jangan lupa kasih kabar ya, hati-hati ada yang tertinggal di bandara,” balasku. Lalu kamu berbalik dan hanya memperlihatkan bidang bahumu. Aku memperhatikan langkahmu tanpa bergeser sedikitpun dari pijakku. Ini malam terberat perpisahan kita. Setelah beradu pendapat, ini perpisahan yang paling tidak aku inginkan selama bersamamu. Seandainya waktu dan jarak ini bisa kita beli, mungkin sudah sejak lama kebersamaan yang limited edition itu menjadi milik kita.

Kamu mulai hilang dari pandangan, aku pun mulai kehilangan wangi parfummu, senyummu yang paling manis, dan pandangan mata yang tajam. Semua hilang bersamaan di lobby bandara. Rasanya berat, entah mengapa. Padahal aku yakin, jika usia mengamini, kita pasti akan bertemu lagi, mungkin akan bersama, berdua. Bisa jadi, kali nanti aku yang datang ke kotamu, tidak selalu kamu. Untuk membangun setinggi-tingginya mimpi. Mewujudkan ucapan-ucapan kita menjadi kenyataan dalam hidup kita nanti.

Waktu masih kurang dari sepuluh menit sejak kamu tidak terlihat lagi. “Iya, ini aku lagi jalan ke mobil. Kamu udah check-in? Perhatikan ya barang bawaannya, jangan sampai ketinggalan.” Kamu sudah menghubungiku lagi via telephone. Mungkin ini juga menjadi alasan, mengapa aku, begitu menerima keberadaanmu.

“Kamu hati-hati pulangnya, jangan lupa kasih kabar. Oh, iya, mungkin waktu kamu kasih kabar nanti, handphoneku masih off di pesawat, tapi tetap kabari aku ya, jangan lupa.”

“Iya, nanti aku sms kamu. Ini aku udah di mobil.”

“Oke, hati-hati nyetirnya ya, Sayang.”

“Aku jalan dulu.”

*click*


Dari balik kaca yang basah terguyur hujan malam itu, aku menyerahkanmu pada waktu. “Boarding pass dan lain-lain jangan keselip. Safe flight ya,” pesanku, melalui sms.

"Iya." katamu, semakin memperlihatkan, bahwa kamu bukanlah seorang yang suka basa-basi. Lebih memilih langsung menghubungi via telepon jika memang ada yang ingin ia katakana agak panjang. Atau jika memang benar-benar ingin memuji, ia lebih suka menuliskannya lewat blog pribadinya,

Jakarta-Bali, aku nyaris tidak kuat menjalani ini semua ini. Dan entah mengapa, bandara selalu menjadi tempat dimana aku ingin sekali bisa menghentikan waktu. Ini kali keberapa hatiku patah? Karena keberangkatanmu yang hanya sementara. Sambil mengemudikan mobilku sendirian, aku memandang berkali-kali jam digital di bawah radio mobil. “Baru dua puluh lima menit yang lalu,” gumamku dalam hati, berarti, boarding pun belum, tetapi aku hampir sampai di rumah.

"Sepuluh menit yang lalu aku sudah di rumah, ini baru sms, tadi kebelet pipis, terus langsung bersih-bersih. Welcoming Bali, I’m gonna miss you, Dear.” Ku kirim sms, sebagai kabar yang sudah kujanjikan tadi.

Tubuhku rebah di kasur. Membayangkan hari ini rasanya luar biasa lelah. Bolak-balik kantor dan menemaninya. Lalu mengantarkannya sampai bandara. Tapi tetap saja aku tidak bisa tidur sebelum mendapat kabar baik bahwa dia sudah sampai di rumah. Tidak berapa lama lelahku hilang, tiba-tiba ada telepon darinya. “Loh, kok kamu masih bisa telepon? Bukannya boarding? Atau malah harusnya udah take off?”

“Pesawatku ternyata delay.”

“Delay berapa lama?”

“Sembilan puluh menit. Lama banget ya? Coba daritadi aja nggak usah buru-buru check in.”

Hmmm, hampir semua pasangan LDR pasti mengerti, bagaimana rasanya ini. Aaak!! Nggak ada garpu apa? Rasanya mau aku cemilin satu-satu!! Gondoknya mendengar pasangan kita delay! Harusnya, waktu delay itu menjadi milik kitaaaaa. :’((

Tidak ada komentar:

Posting Komentar