Aku
masih di tempat yang sama, ketika kamu memberikan kecupan tanda perpisahan itu.
“Jaga diri baik-baik ya, secepatnya kita akan bertemu lagi,” katamu, sambil
tergesa-gesa karena waktu check in hampir habis karena kita nikmati sambil
memandang hujan.
“Iya,
kamu hati-hati. Jangan lupa kasih kabar ya, hati-hati ada yang tertinggal di
bandara,” balasku. Lalu kamu berbalik dan hanya memperlihatkan bidang bahumu.
Aku memperhatikan langkahmu tanpa bergeser sedikitpun dari pijakku. Ini malam
terberat perpisahan kita. Setelah beradu pendapat, ini perpisahan yang paling
tidak aku inginkan selama bersamamu. Seandainya waktu dan jarak ini bisa kita
beli, mungkin sudah sejak lama kebersamaan yang limited edition itu menjadi
milik kita.
Kamu
mulai hilang dari pandangan, aku pun mulai kehilangan wangi parfummu, senyummu
yang paling manis, dan pandangan mata yang tajam. Semua hilang bersamaan di
lobby bandara. Rasanya berat, entah mengapa. Padahal aku yakin, jika usia
mengamini, kita pasti akan bertemu lagi, mungkin akan bersama, berdua. Bisa
jadi, kali nanti aku yang datang ke kotamu, tidak selalu kamu. Untuk membangun
setinggi-tingginya mimpi. Mewujudkan ucapan-ucapan kita menjadi kenyataan dalam
hidup kita nanti.
Waktu
masih kurang dari sepuluh menit sejak kamu tidak terlihat lagi. “Iya, ini aku
lagi jalan ke mobil. Kamu udah check-in? Perhatikan ya barang bawaannya, jangan
sampai ketinggalan.” Kamu sudah menghubungiku lagi via telephone. Mungkin ini
juga menjadi alasan, mengapa aku, begitu menerima keberadaanmu.
“Kamu
hati-hati pulangnya, jangan lupa kasih kabar. Oh, iya, mungkin waktu kamu kasih
kabar nanti, handphoneku masih off di pesawat, tapi tetap kabari aku ya, jangan
lupa.”
“Iya,
nanti aku sms kamu. Ini aku udah di mobil.”
“Oke,
hati-hati nyetirnya ya, Sayang.”
“Aku
jalan dulu.”
*click*
Dari
balik kaca yang basah terguyur hujan malam itu, aku menyerahkanmu pada waktu.
“Boarding pass dan lain-lain jangan keselip. Safe flight ya,” pesanku, melalui
sms.
"Iya."
katamu, semakin memperlihatkan, bahwa kamu bukanlah seorang yang suka
basa-basi. Lebih memilih langsung menghubungi via telepon jika memang ada yang
ingin ia katakana agak panjang. Atau jika memang benar-benar ingin memuji, ia
lebih suka menuliskannya lewat blog pribadinya,
Jakarta-Bali,
aku nyaris tidak kuat menjalani ini semua ini. Dan entah mengapa, bandara
selalu menjadi tempat dimana aku ingin sekali bisa menghentikan waktu. Ini kali
keberapa hatiku patah? Karena keberangkatanmu yang hanya sementara. Sambil
mengemudikan mobilku sendirian, aku memandang berkali-kali jam digital di bawah
radio mobil. “Baru dua puluh lima menit yang lalu,” gumamku dalam hati,
berarti, boarding pun belum, tetapi aku hampir sampai di rumah.
"Sepuluh
menit yang lalu aku sudah di rumah, ini baru sms, tadi kebelet pipis, terus
langsung bersih-bersih. Welcoming Bali, I’m gonna miss you, Dear.” Ku kirim
sms, sebagai kabar yang sudah kujanjikan tadi.
Tubuhku
rebah di kasur. Membayangkan hari ini rasanya luar biasa lelah. Bolak-balik
kantor dan menemaninya. Lalu mengantarkannya sampai bandara. Tapi tetap saja
aku tidak bisa tidur sebelum mendapat kabar baik bahwa dia sudah sampai di
rumah. Tidak berapa lama lelahku hilang, tiba-tiba ada telepon darinya. “Loh,
kok kamu masih bisa telepon? Bukannya boarding? Atau malah harusnya udah take
off?”
“Pesawatku
ternyata delay.”
“Delay
berapa lama?”
“Sembilan
puluh menit. Lama banget ya? Coba daritadi aja nggak usah buru-buru check in.”
Hmmm,
hampir semua pasangan LDR pasti mengerti, bagaimana rasanya ini. Aaak!! Nggak
ada garpu apa? Rasanya mau aku cemilin satu-satu!! Gondoknya mendengar pasangan
kita delay! Harusnya, waktu delay itu menjadi milik kitaaaaa. :’((
Tidak ada komentar:
Posting Komentar