Selasa, 14 Agustus 2012

Waktu Delay Itu Milik Kita!


Aku masih di tempat yang sama, ketika kamu memberikan kecupan tanda perpisahan itu. “Jaga diri baik-baik ya, secepatnya kita akan bertemu lagi,” katamu, sambil tergesa-gesa karena waktu check in hampir habis karena kita nikmati sambil memandang hujan.

“Iya, kamu hati-hati. Jangan lupa kasih kabar ya, hati-hati ada yang tertinggal di bandara,” balasku. Lalu kamu berbalik dan hanya memperlihatkan bidang bahumu. Aku memperhatikan langkahmu tanpa bergeser sedikitpun dari pijakku. Ini malam terberat perpisahan kita. Setelah beradu pendapat, ini perpisahan yang paling tidak aku inginkan selama bersamamu. Seandainya waktu dan jarak ini bisa kita beli, mungkin sudah sejak lama kebersamaan yang limited edition itu menjadi milik kita.

Kamu mulai hilang dari pandangan, aku pun mulai kehilangan wangi parfummu, senyummu yang paling manis, dan pandangan mata yang tajam. Semua hilang bersamaan di lobby bandara. Rasanya berat, entah mengapa. Padahal aku yakin, jika usia mengamini, kita pasti akan bertemu lagi, mungkin akan bersama, berdua. Bisa jadi, kali nanti aku yang datang ke kotamu, tidak selalu kamu. Untuk membangun setinggi-tingginya mimpi. Mewujudkan ucapan-ucapan kita menjadi kenyataan dalam hidup kita nanti.

Waktu masih kurang dari sepuluh menit sejak kamu tidak terlihat lagi. “Iya, ini aku lagi jalan ke mobil. Kamu udah check-in? Perhatikan ya barang bawaannya, jangan sampai ketinggalan.” Kamu sudah menghubungiku lagi via telephone. Mungkin ini juga menjadi alasan, mengapa aku, begitu menerima keberadaanmu.

“Kamu hati-hati pulangnya, jangan lupa kasih kabar. Oh, iya, mungkin waktu kamu kasih kabar nanti, handphoneku masih off di pesawat, tapi tetap kabari aku ya, jangan lupa.”

“Iya, nanti aku sms kamu. Ini aku udah di mobil.”

“Oke, hati-hati nyetirnya ya, Sayang.”

“Aku jalan dulu.”

*click*


Dari balik kaca yang basah terguyur hujan malam itu, aku menyerahkanmu pada waktu. “Boarding pass dan lain-lain jangan keselip. Safe flight ya,” pesanku, melalui sms.

"Iya." katamu, semakin memperlihatkan, bahwa kamu bukanlah seorang yang suka basa-basi. Lebih memilih langsung menghubungi via telepon jika memang ada yang ingin ia katakana agak panjang. Atau jika memang benar-benar ingin memuji, ia lebih suka menuliskannya lewat blog pribadinya,

Jakarta-Bali, aku nyaris tidak kuat menjalani ini semua ini. Dan entah mengapa, bandara selalu menjadi tempat dimana aku ingin sekali bisa menghentikan waktu. Ini kali keberapa hatiku patah? Karena keberangkatanmu yang hanya sementara. Sambil mengemudikan mobilku sendirian, aku memandang berkali-kali jam digital di bawah radio mobil. “Baru dua puluh lima menit yang lalu,” gumamku dalam hati, berarti, boarding pun belum, tetapi aku hampir sampai di rumah.

"Sepuluh menit yang lalu aku sudah di rumah, ini baru sms, tadi kebelet pipis, terus langsung bersih-bersih. Welcoming Bali, I’m gonna miss you, Dear.” Ku kirim sms, sebagai kabar yang sudah kujanjikan tadi.

Tubuhku rebah di kasur. Membayangkan hari ini rasanya luar biasa lelah. Bolak-balik kantor dan menemaninya. Lalu mengantarkannya sampai bandara. Tapi tetap saja aku tidak bisa tidur sebelum mendapat kabar baik bahwa dia sudah sampai di rumah. Tidak berapa lama lelahku hilang, tiba-tiba ada telepon darinya. “Loh, kok kamu masih bisa telepon? Bukannya boarding? Atau malah harusnya udah take off?”

“Pesawatku ternyata delay.”

“Delay berapa lama?”

“Sembilan puluh menit. Lama banget ya? Coba daritadi aja nggak usah buru-buru check in.”

Hmmm, hampir semua pasangan LDR pasti mengerti, bagaimana rasanya ini. Aaak!! Nggak ada garpu apa? Rasanya mau aku cemilin satu-satu!! Gondoknya mendengar pasangan kita delay! Harusnya, waktu delay itu menjadi milik kitaaaaa. :’((

Rabu, 01 Agustus 2012

Lupain Mantan Kamu, Plis. :)



“Membicarakan mantanmu itu tidak salah, di depan siapapun. Dengan catatan; kamu sudah memastikan bahwa tidak ada siapapun yang tersakiti. Mungkin kekasihmu, aku. Mungkin juga kekasih mantanmu yang baru,” aku menyerang.

Belum selesai aku menghela napas, kamu sudah memberiku senyuman lagi. Senyum yang tulus, tetapi lebih terlihat senyum yang menutupi rasa bersalah. Senyumnya hampir seperti jaring-jaring penangkap ikan. Lebar, tetapi transparan. Memperlihatkan apa yang ada di belakangnya.

Aku bukan sedang marah, hanya sedang mengingatkan, barangkali kamu lupa, mana-mana saja hal yang menyenangkan, dan menyakitkan. Dan barangkali kamu lupa, barusan aku menyerangmu, karena kamu panjang lebar menceritakan tentang mantan kamu yang itu. :)

Jumat, 20 Juli 2012

"I Love Our Friendship, Love," katanya.



“Mau puasa, kamu tetap nggak mau ketemu sama aku? Emang nggak perlu maaf-maafan sama aku?”

Pagi yang hampir habis itu saya buka dengan membaca pesan pendek dari dia yang kebetulan mantan saya. Sebut saja “dia”. Saya kebetulan baru saja bangun tidur, dan ternyata sms itu dikirim dari jam 7:49 pagi. Kalau saya tidak salah ingat, jam itu adalah jam kronis ketika seisi rumahnya semua pergi beraktivitas. Ayah dan Ibunya pergi kerja. Juga adik-adiknya, mereka pergi ke sekolah mereka masing-masing. Yang tersisa hanya dia di rumah dengan dua pembantunya. (Itupun jika pembantunya masih dua orang).

Pagi itu mungkin dia kesepian, atau merasa kangen dan sedang mengingat saya, entahlah, yang jelas pagi itu saya terima pesannya seperti itu. “Maaf untuk apa?” balas saya, singkat.

“Ya buat semuanya, buat aku terutama, aku kayaknya banyak salah sama kamu,”katanya.

Whaaaat?! Kayaknya?! Cuma kayaknya?! Tiba-tiba saya meradang dalam hati. “Cuma kayaknya?” Seolah kata-kata itu menjadi pertanda buruk. Bahwa selama ini, dia masih belum menyadari mengapa saya pergi meninggalkannya begitu saja dan tanpa kejadian berarti pada waktu itu. Tapi akhirnya saya jadi mengerti, jika sampai sejauh ini dia belum menyadari bagaimana dirinya di mata saya, keputusan saya pergi adalah keputusan yang paling tepat.

Lalu saya membalas pesannya lagi, “serius mau ketemu? Jemput aku jam 1 di rumah deh kalo gitu. Gak pake ngaret, nggak pake nanya-nanya lagi.”

“Siap, Nyah!” balasnya.

Sejenak saya tersenyum, dia masih seperti dulu. Seperti dua tahun lalu ketika kami masih bisa saling merindu. “Aku menghormati kamu banget. Kamu harus ada di atas aku, biar aku jadi babu kamu deh, Nyah. Asal kamu bahagia, hehehe.” Saya masih ingat candaannya dahulu. Candaan ketika cinta masih ada. Dan yang membuat saya bahagia adalah keseriusannya mempertahankan kata-katanya dulu-hingga hari ini. Walau kita sudah tidak lagi sama-sama, saya tetap merasa dihormati.

Nyatanya, agak lama saya dibuat senyam-senyum sendiri oleh pesan terakhirnya. Dan begitu saya melihat jam dinding tepat di depan saya, sudah jam sebelas lebih lima belas menit! Setengah dua belas lah hitungannya. Untuk mandi empat puluh menit, siap-siap ini itu hampir tiga puluh menit, dan dengannya saya tidak biasa terlambat. Dengan sedikit terburu-buru, akhirnya saya selesai dan rapi jam setengah satu siang.

Penasaran, saya masih ingin tahu, apakah dia masih mengingat kebiasaan-kebiasaanya dulu. Apakah dia masih akan member kabar “aku udah rapi, kamu udah belum?” seperti biasa, seperti ketika status kami masih sebagai pacar. Atau masih memberi kabar ketika sedang memakai sepatu, dan member aba-aba bahwa dia sudah pada setengah perjalanannya menuju rumah saya. Semua masih saya ingat dengan baik. Masih tersimpan rapi di tempat yang dia sediakan sendiri.

Jam setengah satu lebih lima, “aku jalan ya, nanti ditunggu di gang 6 kaya biasa,”pesannya.

“Kaya biasa apa kaya dulu? Hehehe.”

“Iya kaya dulu. Jangan ngaret ya, takut nggak ada parkir.”

“No worries Mas, i am ready.”

“Oke, aku jalan ya.”

“Iya.”

“Nyah, aku jalan ya?”

Dia mengulangi tiga kali “aku jalan ya” dalam pesannya. Setelah beberapa detik, saya baru menyadari, justru ternyata saya yang lupa mengucapkan kata hati-hati seperti biasa. Kebiasaannya masih sama seperti lima tahun yang lalu, ketika awal-awal masa pacaran. Dia akan selalu menagih ucapan hati-hati saya ketika saya lupa mengucapkannya saat dia akan berpergian. Untuk atau tanpa saya. Bahkan pernah dia tidak akan meninggalkan rumahnya ketika saya lupa mengucapkan kata hati-hati untuknya. Dan hari ini dia masih menagihnya. Entah apa alasannya, tapi saya yakin, kalian tahu bagaimana rasanya jadi saya siang itu. :”)

“Iya, hati-hati ya. Aku tunggu di rumah, kaya biasa.”

Tanpa balasan. Itu berarti dia langsung jalan, setelah membaca itu, saya bisa pastikan dia akan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menuju rumah saya. Semua masih baik seperti dulu. Ritualnya, kata-katanya, semuanya. Hanya perasaannya saja yang kini berbeda. Oh ya, dan statusnya.

Saya langsung keluar rumah ketika dia member kabar bahwa dia sudah sampai di gang, tempat biasa dia menjemput saya bertahun-tahun. “Oke aku keluar,” kali ini dia member kabar via telepon, bukan sms, bukan bbm. Maksudnya supaya lebih cepat. Dan sekali lagi, ini makin memngingatkan saya dengan kebiasaan-kebiasaannya dulu. Ternyata tidak ada yang berubah darinya, sedikit pun, sekecil apapun. Malah saya yang banyak berubah. Saya lalu berkaca dengan perbuatannya hari ini. Ya, saya sudah banyak berubah.

Setelah beberapa bulan kami tidak saling menyapa, mengirim kabar, say hallo atau apa, lalu tiba-tiba harus bertemu lagi, di ruang sempit dan hanya berdua itu rasanya amburadul. Kadang beberapa detik saya dibawa lari ke masa-masa yang sudah menjadi kenangan. “Apa kabar, Mas? Akhirnya ketemu lagi ya kita,” saya memecah keheningan di ruangan itu. Mobilnya.

“Biasa aja.”

“Biasa aja itu baik atau nggak baik ya?”

“Aku biasa gini kalau nggak ada kamu, baik-baik nggak lah. Emang kamu, ngehits banget di twitter, beda lah sekarang mah, jauh sama aku.”

“Hmmm… Mulai deh…”

“HP-nya taro dulu dong Nyah, iya tau… banyak mention masuk tau… Tapi taro dulu dong. Aku makin kaya supir gini dicuekin.”

“Aku taro HP aku terus pake HP kamu ya? Boleh? Hm. Pasti nggak. Ya pasti nggak lah, takut ketauan kalau ceweknya banyak tuh…”

#heninglagi #kemudianheningterusterusan

Tidak ada tanggapan apapun. Saya melihat ke sebelah kanan, lalu mendapati dia hanya fokus pada marka-marka jalan, tengok spion kanan-kiri, dan mengabaikan bercandaan saya yang nyaris serius itu. Memang sudah tidak ada lagi hal-hal pribadi yang harus saya ketahui dari dia atau pun yang harus saya share untuknya. Saya menyadari kapasitas saya sebagai mantan bukan untuk ngore-ngorek kehidupannya, toh jika memang perlu, dia akan menceritakannya sendiri. Mungkin juga begitu yang ada dipikirannya saat ini. Kasarnya, kita sama-sama tahu diri. Tahu batasan dan porsi masing-masing.

“Kamu kok nggak nanya kita mau kemana, Nyah?” hening di dalam mobil pecah untuk kedua kalinya. Kali ini dia yang memulainya. Jika kami masih berada dalam sebuah grup, bisa dipastikan, saya dan dia masih menjadi teman satu tim yang baik untuk hal bekerja sama. Seperti tahun-tahun ketika kami kuliah dulu.

“Nggak perlu nanya-nanya, aku percaya kamu nggak mungkin bawa aku ke tempat yang aneh-aneh. Iya kan?”

“Kata siapa kamu, aku nggak akan bawa kamu ke tempat yang aneh?”

“Kata aku barusan.”

“Kalau ternyata aku bawa kamu ke tempat aneh gimana? Jurang misalnya?”

“Kalau kamu kaya gitu, urusannya udah bukan sama aku lagi, tapi sama Tuhan dan sama diri kamu sendiri yang udah mengkhianati kepercayaan aku. Aku nggak ragu sama ajakan kamu, kalau kamu bawa aku ke jurang, berarti emang kamunya yang jahat. Berkhianat.”

“Ampun Nyah, ampun. Kamu masih sama kaya kamu yang dulu. Nakutin!”

“Bodo.”

Duh, kalau aja siang itu saya bisa teriak sekencang-kencangnya di dalam mobil, saya akan lakukan. Mood saya mulai kacau. Naik turun seperti roller coaster. Kencang! Dan aneh. Perbincangan ini membawa saya dan dia ke beberapa bulan yang lalu. Dan untuk beberapa hari ke depan, saya lah yang harus bertanggung jawab jika mood ini masih belum stabil karena pertemuan hari ini.

Mantan saya itu masih care, masih peduli dengan hal-hal detail yang menempel pada diri saya. Dia menanyakan banyak hal, tentang kesukaan saya dengan warna hitam yang nggak luntur-luntur, bahkan dia berkomentar dengan apa yang saya pakai hari itu. Dia bilang, saya tetap menunjukan identitasnya sebagai pecinta warna hitam. Ya, hari itu saya mati gaya. Hanya memakai celana hita, kaos hitam dengan outer flannel kotak-kotak cokelat, sepatu hitam, dan tas hitam. Dia juga mengomentari penyakit insomnia yang saya derita. Sejak aku nggak ada, insomnia kamu makin bebas menggerogoti hidup kamu, Nyah, begitu katanya. Saya hanya bisa diam. Dalam perjalanan itu, saya benar-benar hanya mengandalkan Tuhan untuk mengendalikan emosi hati saya. Berharap semoga Tuhan menjaga perilaku saya di depan mantan saya itu. “Please, tolong jangan buat saya malu ya, Tuhan. Buat saya untuk tetap ja-im di depannya. Please”.

Siang itu akhirnya kita ke Plasa Senayan. Seperti tebakan saya. Mall ini adalah mall favoritnya ketika dia masih bersama dengan saya. Entah bagaimana sekarang, tapi hari ini saya benar-benar ia bawa ke masa lalunya, masa lalu saya juga.

Hampir pukul setengah tiga sore. Jalanan hari itu macet parah. Dari Thamrin ke Sudirman macet. Depan Taman Ria apalagi, macet! Alhasil hampir satu setengah jam saya dan dia terkurung di dalam mobilnya. “Mau nonton?” tanyanya pada saya.

“Nggak ah, nggak mood nonton aku.”

“Terus mau apa dong?”

“Mau maaf-maafan kan, kata kamu tadi padi?”

“Susah ya, ngomong sama kamu, maaf-maafan dikira ketemu-salaman-minta maaf-pulang ya, Nyah? Ya nggak gitu juga lah… Makan?”

“Boleh, makan apa?”

“Bebas kamu aja.”

“Berat ringan?”

“Bebas, Nyaaah… Terserah kamuuu, aku ikut deh apa aja pilihan kamu.”

“Siap, Mas. Siap.”

Bersamaan dengan kejadian hari ini akhirnya saya membuktikan satu teori temuan saya, bahwa nafsu makan akan hilang berbarengan dengan hilangnya mood yang menyenangkan di dalam hati. Saya belum makan hari itu, tapi sama sekali tidak merasa lapar. Cuma aneh yang saya rasakan. Pertama aneh karena “kok bisa kita jalan berdua lagi?” dan kedua aneh karena “kok bisa baik-baik aja nggak pake perang pas ketemu lagi?”. Kedua keanehan itu membuat nafsu makan saya hilang dan sulit konsentrasi. Hehehe. Yang ini agak lebay, tapi serius.

Saya membawanya ke Union di Plasa Senanyan. Tempat yang cozy untuk maaf-maafan sambil ngobrol ngalor-ngidul sore hingga malam, malam hingga pagi, dan pagi hingga malam lagi. Tempat ini belum pernah kami datangi berdua. Dan setiap saya ke tempat ini dengan teman-teman saya, saya selalu membayangkan, saya bisa ketempat ini dengan orang yang menemani saya hari ini. Selalu saya bayangkan dia ketika saya berada di gudang red velvet ini. Ya, sangat tidak saya prediksi, apa yang saya bayangkan ketika itu, hari ini benar-benar terjadi. Benar-benar nyata.

“Untuk berapa orang Mbak?” tanya waitress di sana.

“Dua orang Mbak. Waiting list nggak ya?”

“Smoking atau no smoking?”

“Kalau ada no smoking, kalau nggak ada, smoking nggak apa-apa.”

Kemudian kami diantarkan ke kursi di sudut ruangan no smoking oleh waitress tersebut. Memilah milih menu yang ujung-ujungnya red velvet dan minuman pendamping. Begitu pun dengan dia yang hari ini pergi bersama saya. Dia mempercayakan saya untuk memilihkan pesanannya. Sungguh, kejadian ini adalah kejadian yang biasa terjadi pada kami saat kami berpacaran. Setelah waitress meninggalkan meja kami, aku kembali sibuk dengan handphone. Begitupun dia. Sibuk dengan handphonenya. Kali ini dia tidak komplein sampai pesanan kami datang.

“Masih nggak suka minum kopi?” tanya saya. Sepengetahuan saya hari ini, dia memang bukan seorang penikmat kopi. Jika ada teh atau cokelat, dia akan memilih cokelat panas. Jika hanya ada teh atau kopi, dia akan memilih teh. Dan jika hanya ada kopi atau air mineral, maka dia akan memilih air mineral.

“Masih.” Dia menjawab pertanyaan baik saya dengan sangat datar. Beberapa detik saya merasa biasa. Tapi beberapa menit kemudian saya kembali bertanya.

“Kenapa? Kamu nggak suka makan di sini? Kita pindah aja kalau kamu nggak suka,” saya mencoba mencari tahu, ada apa dengan suasana hatinya yang tiba-tiba menjadi datar. Saya mengira, penyebabnya adalah kabar yang ia terima dari handphonenya beberapa menit yang lalu sebelum akhirnya handphone itu ia masukkan kembali ke dalam saku celananya. Masih tanpa jawaban. Saya mengamatinya dengan baik. Dia hanya menunduk tanpa suara. Pandangannya jatuh tepat di atas cake yang menjadi pesanannya. “Hey, kamu kenapa? Ada masalah? Kita bisa pulang kalau kamu lagi ada masalah,” aku mengulangi pertanyaanku.

“Kamu sering ke tempat ini?” dia bertanya, dengan sedikit gemetar, seperti ada yang ia tahan di dalam emosinya.

“Nggak sering juga. Ada apa? Kamu nggak suka sama tempatnya? Kita bisa pindah sekarang,” jawab saya. Saya masih mampu membaca ekspresi yang ia tampilkan untuk merespon suatu hal. Bagaimana responnya ketika dia tidak menyukai hal ini dan bagaimana responnya ketika dia menyukai hal itu. “Kamu nggak nyaman ya sama tempatnya? Makanannya take away aja ya, kita cari tempat lain,” pinta saya.

“Nggak usah!! Nggak usah sok manis di depan aku. Aku bukan nggak suka tempatnya, tapi aku nggak suka sama cara kamu bergaul sekarang!”

TEPATTT! Seperti dugaan saya. Sikap ini yang akan ia tampilkan atas ekspresi datarnya beberapa menit yang lalu. Tidak meleset sedikit pun. Dia masih sama. Masih seperti yang saya ketahui sampai hari ini. Tidak ada yang berubah sedikit pun darinya. Manis-manisnya, juga sifat pemarahnya. Saya kembali harus berusaha menjadi air bagi api. Harus mengalah. Sabar. Sebenarnya hati saya panas mendengar komentar seperti itu, tapi ini bukan waktu yang tepat jika harus berdebat dengan nada yang sama tinggi. Saya komat-kamit dalam hati, “ngalah aja ngalah… yang waras ngalah… jangan sampai ngomong dengan nada tinggi… turunin nada, turunin.” Seperti itu, berkali-kali.

“Ada yang salah sama pergaulan aku sekarang?” kemudian saya bertanya baik-baik. Dengan nada suara serendah-rendahnya. Berharap mendapat jawaban yang baik pula. Kalaupun kata-kata yang akan keluar dari mulutnya bukan kata-kata yang baik, minimal diucapkan dengan nada yang baik.

“Jadi gini sekarang cara kamu bergaul? Temen kaya apa sih yang kamu pilih sekarang, ha?”

“Nggak usah bawa-bawa temen aku, urusan kamu hanya urusan antara aku dan kamu aja, bukan aku dengan temen-temen aku, atau aku dengan siapapun.”

“Kamu mau jadi apa sih, bergaul di tempat kaya gini? Kiri kanan cewek ngerokok semua, menu isinya beer semua, alkohol semua. Gini kamu sekarang?”

“Kamu pernah liat aku ngerokok sampai hari ini? Atau kamu pernah liat aku minum sampai hari ini? Atau gini deh, apa kali ini aku ngerokok atau minum di depan kamu? Nggak kan? Nggak ada hubungannya hidupku sama tempat yang lagi aku tempatin. Jadi kamu nggak perlu khawatirin apa-apa yang nggak pernah terjadi sama aku. Aku bisa jaga diri. Masih tau mana yang baik, mana yang nggak. Oke gini deh, makasih kalau kamu masih khawatir sama cara aku bergaul, tapi asal kamu tau, bukan cara bergaul aku yang salah, tapi cara kamu ngebentak-bentak aku barusan yang salah.”

Union, pertemuan yang awalnya baik-baik saja, diniatkan untuk hal yang juga baik malah jadi berantakan hanya karena emotionalnya yang masih sama dan nggak ada berubahnya. Masih temperament dan berapi-api. Masih sama persis. Bertahun-tahun kami bersama, saya bagian mengambil peran pengalah dan peredam emosinya. Bertahun-tahun. Bayangkan bagaimana lelahnya saya kemarin. Dan bagaimana sulitnya jadi diri saya yang harus pontang-panting menahan marah di depan orang yang sedang memarahi saya sesuka hatinya. Phft maksimal.

“Ini sih kalau kamu masih mau tau siapa aku ya, aku lagi nahan banget supaya nggak kepancing emosinya di depan kamu. Aku masih menghargai pertemuan ini karena kita udah lama banget nggak ketemu dan kamu yang minta ketemu karena katanya mau puasa dan harus maaf-maafan. Oke aku turutin pertemuan kamu. Aku nggak punya maksud apa-apa selain nu-rut-in apa mau kamu. Tapi kalau jadinya kaya gini, siapa yang nggak kecewa? Urusan kamu deh ya, kamu suka atau nggak sama tempat ini, tapi harusnya kamu nggak kasih penilaian buat aku cuma karena aku bawa kamu ke tempat ini. Kita tuh udah setahun lebih nggak ketemu, dan hari ini, kita baru ketemu lagi, itu pun baru dua jam tiga jam. Sekarang kamu marah-marah, ngejudge pergaulan aku nggak bener. Darimana kamu bisa kasih penilaian buat aku? Dari apa yang baru kamu tau lagi selama dua jam-tiga jam? Emang kamu tau sebulan kemarin aku ngapain? Atau lima bulan kemarin aku ngapain? Atau setahun kemarin aku ngapain? Kamu tau selama kamu gak ada aku bergaul sama siapa aja? Mau bilang tau dari twitter? Twitter itu cuma maya, bukan realitas. Aku bisa aja ngetweet lagi di luar jam segini padahal akunya udah di kamar, udah mau tidur. Bisa aja kan? Sekarang kamu mau nilai aku cuma dari hal-hal kaya gitu? Picik kamu namanya.”

Fufufu!! Walaupun sudah ditahan-tahan, naluri saya sebagai perempuan terus keluar. Cerewet, bawel, dan nggak bisa berhenti berbicara. Ini bagian tersulit dalam menghadapinya sepanjang sejarah saya hidup dengannya. Mebawa emosinya yang sudah terlanjur tinggi dan memanas ke arah yang lebih rendah. Turun, supaya kembali adem dan dingin. Saya harus pintar-pintar berbicara dengannya.

Bolak balik saya memperhatikan matanya dan masih belum menemukan ada ketenangan di dalamnya. Dia seolah masih ingin mencari pembenaran atas pendapatnya tadi. Bukan. Bukan saya ingin marah atau tidak terima, tapi sikapnya yang barusan ia tunjukan kepada saya bukanlah sikap yang baik yang dimiliki oleh setiap orang. Sikap yang menjadi alasan saya meninggalkannya, ternyata masih berada dalam dirinya. Saya tidak melihat sikap itu semakin parah, tapi juga tidak hilang. Hari ini saya masih menemukannya. Dan jujur, saya kembali pada kekecewaan saya dulu. Ya, saya kembali kecewa.

“Aku bukan lagi marah sama kamu,” katanya, lirih.

“Aku juga bukan lagi marah sama kamu, kamu ngira aku marah sama kamu ya tadi?” jawabku. Dan dia hanya menggeleng. “Aku tadi bukan marah sama kamu. Suatu hari nanti, pasti kamu akan menjadi seorang yang sibuk, yang bertemu banyak orang setiap hari, nggak peduli orang itu sudah kamu kenal atau belum, apakah orang itu adalah teman lama kamu, atau mungkin mantan kamu, atau mungkin juga orang yang sama sekali belum pernah kamu temui. Mereka akan mendatangi kamu dengan sifat dan sikap yang berbeda-beda pasti, ada yang ramah, ada yang nggak ramah, bisa aja kan dia judes ke kamu, atau sinis, atau apapun, tapi itu kan luarnya yang kamu lihat. Dan yang kamu tangkap nanti, itu mungkin luarnya mereka, mereka yang menurut kamu ramah, belum tentu baik di belakangnya, atau sebaliknya, yang menurut kamu dia sinis sama kamu, belum tentu dia tidak baik di belakangnya. Apa kamu ma terus-terusan emosi sama penilaian-penilaian kamu tentang orang lain, yang kamu tau luarnya aja? Apa jangan-jangan nanti kalau dari luarnya kamu nggak suka, terus udah, kamu tinggalin gitu aja? Kan nggak mungkin kamu terus-terusan begini sampai tua. Iya kan? Cukuplah orang mendapati kamu dengan kata-kata yang baik-baik aja, dengan sikap yang baik-baik aja. Kalau nggak suka sama orangnya, tunggu orangnya sampai nggak ada, ya pokoknya jangan sampai lah kamu nyakitin orang-orang itu dengan hal-hal kaya yang barusan kamu bikin itu. Kamu ngerti kan? Jadi aku bukan lagi marah sama kamu, aku justru lagi khawatir sama kamu kalau kamunya gini-gini aja.”

#ambilnapas #ngomongkelamaan #kehabisaudara #phft

Kami berdua sama-sama berusaha meredakan emosi. Membuat pertemuan ini menjadi pertemuan yang berharga lagi. Terutama saya. Saya nggak akan memberikan kenangan buruk untuk pertemuan kali ini. Kalaupun ini menjadi pertemuan yang paling terakhir bagi saya dan dia, saya akan memastikan, bahwa kali ini semua yang tertinggal benar-benar sudah selesai. Itu sebabnya mengapa saya benar-benar menjaga emosi saya. Walaupun mental saya benar-benar di acak-acak olehnya.

Dia masih tidak bicara, tapi kali ini dia terlihat lebih relax dari sebelumnya. Dia mulai memainka sedotan minumannya, mulai melihat-lihat pemandangan di ruangan ini. Dia mulai menikmati kondisi para tamu yang merokok dan menu-menu minuman yang sebagian beralkohol itu. Seolah dia sedang mencari tahu, apa yang membuat saya betah dan kembali lagi ke tempat ini.

Saya tetap memperhatikannya, gerak-geriknya, matanya, pandangannya ke arah mana ia jatuhkan. Dulu, di matanya ada cinta untuk saya. Pandangannya memiliki makna yang berat setiap melihat saya. Sekarang semuanya kosong. Mungkin begitu juga dengan saya. Kadang saya tersenyum dalam hati. Sesekali menyesali mengapa kami harus berpisah dan tidak kembali lagi. Tetapi kadang saya bersyukur, sangat berterima kasih kepada Tuhan yang mampu memisahkan kami bukan dengan hal-hal yang buruk seperti hadirnya orang ketiga, perselingkuhan, atau hancurnya kepercayaan. Jika boleh kembali ke masa-masa itu, lucu, kami berpisah hanya karena dua-duanya tidak bisa menahan emosi. Sama-sama pemarah jika sedang disudutkan oleh masalah. Dan kami mental begitu saja dari hubungan yang kami bangun sendiri. Itulah dinamika kehidupan. Nggak ada yang bisa ngerti akhirnya akan bagaimana di tangan kita. :”)

“Tempat ini nggak seperti yang kamu bayangkan, Mas. Ini tempat yang asik buat ngumpul bareng temen-temen. Kamu tadi ngecap tempat ini buruk mungkin karena meja di samping-samping kita isinya cewek pakai tanktop, bertatto, dan minum. Terus kamu lihat ke smoking area, kebetulan kali ini isinya lebih banyak cewek daripada cowok. Iya nggak begitu? Padahal aselinya banyak juga kok cewek-cewek yang pake jilbab kesini. Mereka kesini bukan karena tempatnya, tapi karena cake-nya enak-enak. Di antara tempat-tempat lain, red velvet di sini masih lebih enak loh, menurut aku. Jadi banyak alasan kenapa cewek-cewek cupu kaya aku juga suka sama tempat ini. Bukan karena rokok atau alcohol. Iya kan?” sekali lagi, saya sedang berusahaaaa…banget meredam emosinya dan negative thinkingnya. Saya benar-benar tidak ingin waktu yang sedang saya lewati dengan dia hari ini jatuhnya sia-sia. Nggak ingin sama sekali.

“Tapi aku tetap nggak suka kamu ada di sini. Buat aku tetep aja, ini bukan tempat yang baik buat kamu bergaul. Bergaul biasa-biasa ajalah, nggak usah terlalu gimana-gimana. Cari tempat yang baik supaya ketemunya sama orang yang baik,” akhirnya dia mulai bicara lagi, :”) akhirnya.

“Iya, nanti aku cari.”

“Ya sebenarnya juga bukan urusan aku sih, kamu mau main di mana, mau nongkrong di mana, killing time sama siapa, sama sekali bukan urusan aku. Tapi kayaknya nggak enak aja kalau nanti-nanti aku ngedapetin kabar nggak nggak enak misalnya tentang kamu. Mungkin kalau kamu bukan mantan aku, aku nggak akan kaya tadi juga ke kamu. Ya gitu lah, masa kamu nggak ngerti sih? Kamu kan lebih pinter dari aku. …….pinter ngomong.”

“Yah, dia mulai lagi. Masih mau diterusin, Mas?”

“Oh, nggak. Nggak perlu ada yang diterusin. Udah cukup kok segini aja, yang penting kita tau siapa kita masing-masing, kita tau batasan kita masing-masing, dan terutama aku. Aku jadi tau siapa kamu sekarang.”

Oke. Oke. Saya tau kemana arah pembicaraan ini. Jika tidak di-cut dengan segera, maka pertempuran part dua akan terjadi lagi di meja yang sama. Biarkan dia mereda dengan sendirinya. Saya ambil posisi sebagai pendengar sindiran-sindirannya yang baik yang tidak perlu bertanya-tanya lagi apa maksud omongan-omongannya tadi dan nanti. Jika ada pembicaraan-pembicaraan yang menyerempet buntu, saya hanya akan menanggapinya dengan; senyum, nyengir, muka datar, agak cemberut, manyun, melotot, dan lain-lain tanpa kata. Cukup emoticon-emoticon yang saya adopsi dari emoticon whatsapp atau bbm.

“Kita di sini aja kan?” tanyanya kepada saya. Kaget. Ya, saya kaget sama pertanyaannya. Seolah-olah dia ingin berada di tempat ini untuk waktu yang lebih lama lagi. “Oh, mulai merasa nyaman di sini ternyata,” kata saya, dalam hati.

“Boleh, kita ngobrol sini aja, lagian aku males juga pindah-pindah tempat lagi,” saya jawab kembali.

Kali ini kami sudah damai, sudah bercanda-canda garing, sudah ada pembicaraan serius, bercerita mengenai kegiatan masing-masing selama sudah tidak bersama. Cerita tentang sakitnya ketika kami harus berpisah, bercerita bagaimana dulu kita pernah sama-sama bodoh berantem di jejaring sosial dan semua orang harus mengomentari masalah kami. Tentang kekanak-kanakan yang masih tertinggal hari ini.

“Aku lucu lihat kamu kalau lagi galau malem-malem. Malah aku suka GR, aku suka ngerasa tweet kamu itu ya buat aku,” katanya sambil tersenyum. Dia masih manis.

“Emang kamu follow aku lagi? Kok bisa tau? Haha, stalking ya? Dasar, mata-mata.”

“Ya salah kamu, kenapa account-nya nggak di protect. Kamu ngebiarin semua orang bisa baca isi twitter kamu, ya termasuk aku kan berarti?”

“Ya emang gak salah sih, lagian nggak masalah juga kamu baca. Nggak ngaruh. Hehe.”

“Makanya, protect aja gih akun kamu, punya privasi sedikit kenapa sih, nggak semua orang kan harus tau kamu gimana?”

“Males ah, emang twitter aku kotak amal, mesti digembok segala? Lagian aku juga tau, kalau ada hal-hal yang nggak kepengen orang tau, ya nggak aku tulis di twitter…”

“Hahaha, bukan masalah kotak amal atau apa sih, lagian kamu kan emang seneng semua orang tau urusan-urusan kamu. Aku tau kamu lagi…”

SABAAARRR… MANTAN EMANG SUKA NGESELIN. MAKANYA JADI MANTAN, BUKAN PACAR.

“Kamu, dari tadi omongannya menjurus-jurus kea rah yang nggak enak terus. Dari tadi ngomentarin akunya tuh nggak enaaaaak…terus. Sebenernya kamu ngajak ketemu aku buat minta maaf atau buat ribut-ribut lagi sih?”

PHFT! Dari tadi dia ngomong nggak ada enak-enaknya. Nyelekit, nusuk, berbau sindiran, dan mengarah ke hal-hal di mana kesalahan menjadi milik saya dahulu. Semua diungkit, semua dibahas lagi. Belum bulan puasa, tapi kesabaran sudah lebih dulu diuji dan saya sudah dipaksa untuk menahan hawa nafsu saya. (Baca: tahan marah). Kalau bukan karena kehadirannya yang harus saya hormati, saya tidak akan berlama-lama berada di sampinya hari ini.

“Jadi mau minta maaf, Mas?”

“Jadi Nyah, jadi. Tapi nanti aja di mobil kalau udah mau pulang ke rumah. Sekarang puas-puasin aja dulu ngeselinnya. Boleh, Nyah?”

“Oh, boleh banget. Kebetulan aku selalu punya maaf buat kamu. Jadi gak masalah.”

Akhirnya kami berdua tersenyum lepas. Oh, Tuhan… Terima kasih, ternyata bebannya sudah hilang. Ternyata kami sudah bisa lagi kembali duduk berdua dan tidak mempermasalahkan apa yang pernah terjadi. Tidak mengusik apa yang menjadi business kami masing-masing. Malah kami larut dalam obrolan tentang kami berdua. Ya, tentang kami. Tentang saya dan tentang dia.

Pertanyaan-pertanyaan seperti “kamu kenapa sih dulu begini…” atau “kamu gimana waktu aku begini…” menjadi pertanyaan yang paling saya tunggu-tunggu. Saya ingin tahu, berapa besar kadar ingin tahunya tentang hal-hal itu yang saya alami ketika dengannya. Saya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan dulu justru ketika hati saya dan hatinya sudah sama-sama netral. Tidak ada lagi kepentingan yang harus aya bela hari ini. Saya tidak punya kepentingan apa-apa atas dirinya, begitupun dengannya. Semua yang terjadi hari ini seperti halnya ketika saya membaca-baca lagi tulisan yang saya karang sendiri. Maka di sana saya hanya akan dapat menemukan mana kesalahan-kesalahan saya dan mana bagian tulisan yang enak dibaca. Seolah ini adalah ajang untuk saling mengoreksi diri.

“Kamu kenapa sih Nyah, kayaknya punya power banget buat ninggalin aku dan nggak menghubungi aku sama sekali kaya gini?” dia bertanya. Dan air mukanya tampak sangat serius. Tidak dibuat-buat.

“Nggak tau, aku nggak bisa jawab kalau kaya gini. Mungkin karena kecewa sama sikap kamu yang waktu hari minggu itu kali.”

“Tapi kan aku udah minta maaf?”

“Aku kan juga udah maafin? Terus aku mesti gimana lagi dong?”


#hening #ngelapkeringetdingin #heninglagi


“Nyah, kamu serius ya, nanggepin pisahnya kita kali ini?”

“Aku selalu serius sama kamu. Untuk hal-hal yang menyangkut dengan kamu, aku nggak pernah main-main.”

“Kamu serius sama omongan kamu?”

“Iya dong. Kamu masih ngira aku setengah-setengah putus sama kamu? … Kalau kamu ngira aku cuma setengah-setengah aja putus dari kamu, itu tandanya kamu belum kenal aku. Atau mungkin sebenarnya kamu kenal aku, tapi lupa.”

“Maksudnya?”

“Iya. Dari dulu aku orang yang paling nggak pernah setengah-setengah ngadepin apapun. Apalagi kalau harus membuat keputusan. Aku paling anti sama yang namanya setengah-setengah. Aku selalu serius. Aku pacaran sama kamu nggak pernah setengah-setengah kan? Aku mati-matian pontang-panting nyelametin hubunganku sama kamu. Begitu pun waktu aku putus. Keputusan untuk putus dari kamu adalah keputusan yang aku ambil bukan dengan setengah-setengah. Mau itu setengah hati kek, setengah sadar kek, atau apalah. Mungkin ada kali ya sekitar enam bulan aku pertimbangin putus atau nggak dari kamu, tapi begitu aku lihat kamu nggak berubah, ya akunya lah yang capek, jadi ya gini, kaya kita sekarang.”

Saya memang bukan tipe orang yang suka mengikuti mood. Kalau maunya A, saya harus A. Maunya B, saya harus B. Maunya C D, saya harus C D. Bukan sama sekali. Saya adalah seorang yang rumit, penuh pertimbangan, dan terpaku pada aturan-aturan logis, walaupun kadang saya emosional dan mengikuti perasaan banget, tapi saya seorang yang sangat lambat ketika harus mengambil keputusan. Saya lebih senang dibilang menggantungkan masalah padahal sebenernya saya mempertimbangkan masalah itu dengan waktu lama. Begitulah yang terjadi dengan saya dan dia.

Ketika saya merasa, hubungan yang saya miliki dengannya sudah tidak bisa berjalan dengan baik, saya tidak langsung memutuskan ini. Ada waktu sekitar hampir satu tahun untuk menimbang keputusan ini. Saya pertimbangkan betul baik buruknya jika kami bersama, dan jika kami berpisah. Saya perhitungkan seberapa sakitnya dan tidak mampunya saya lepas dari orang yang berarti bagi saya. Juga saya harus menegarkan hati, jika suatu hari nanti saya atau dia bertemu dengan orang yang baru yang menjadi teman hidup masing-masing. Pertimbangan-pertimbangan seperti itu yang membuat keputusan ini adalah keputusan yang sudah dipikirkan baik-buruknya.

Kami berdua berbincang penuh arti. Sampai malam datang, seolah waktu tidak pernah cukup untuk mengendalikan keinginan kami untuk tetap bersama-sama.

“Kamu lama deh minta maafnya, nanti-nanti di mobil malah lupa, udah mendingan aku aja yang minta maaf, kamu bagian maafinnya aja,” kata saya ketika melihat jam digital di handphone telah menunjukan pukul 19:00. “Intinya, maafin aku ya Mas, buat semuanya, semuuuaaaaanyaaaa… Aku banyak salah sama kamu. Salam buat orang-orang rumah ya, bilangin aku kangen sebenernya, tapi belum bisa main dulu, mungkin nanti,” pesanku.

“Aku juga, maafin aku banget-banget ya. Aku yang sebenernya banyak salah. Maaf ya, aku suka nggak control emosiku kaya tadi sore, pas di sini. Buat semua salah aku.”

“Iya sama-sama ya, udah ah, jadi mellow, nanti kita bayar makanan ini bukan pake uang tapi pake air mata lagi, hehehe. Udah-udah.”

Lalu kami meninggalkan tempat ini dengan bergandengan tangan. Masih ada yang belum hilang dari saya dan dia. Keinginan untuk terus berjalan bersama walaupun waktu sudah memisahkan kita berdua. Dia pernah bertanya pada saya beberapa hari yang lalu ketika kita tidak sengaja chatting tengah malam. Dia bertanya, mengapa saya seberani itu menginggalkannya, mengapa saya tidak membiarkan waktu saja yang memisahkan saya dengannya. Tetapi saya hanya tersenyum belum sempat menjawab, karena  pada saat itu saya memang tidak mempunyai jawaban apa-apa. Dan kali ini, ketika tangannya kembali menyatu dengan tangan saya, saya ingin menjelaskan sedikit hal yang baru saya ketahui; ternyata saya dan dia memang dipisahkan oleh waktu. Benar-benar oleh waktu. Kita berpisah justru disaat kita masih sama-sama ingin berjalan bersama. :”)

Hari ini adalah pertempuran hati yang hebat. Kami berdua harus membangkitkan lagi ingatan-ingatan tentang perjalanan kami dulu pada saat kami bertemu lagi, kemudian harus membunuhnya kembali ketika kami bersiap untuk pulang ke rumah kami masing-masing. Aku masih bergandengan dengannya, rasanya tidak ingin lepas. Ingin selalu begini. Tetapi tidak bisa. Di jalan menuju arah parkiran saya merasa menjadi mantan yang paling beruntung memiliki mantan seperti dia. Mantan luar biasa. Sampai tiba di depan mobilnya, “biarin aku aja yang tutup pintu mobilnya, kamu masuk duluan aja,” kata saya padanya.

Ada kebiasaan indah yang tidak pernah saya lupakan darinya, saya hampir tidak diizinkan untuk menutup atau membuka pintu mobil sendiri. Ketika saya harus turun, saya dibiarkannya duduk manis di bangku kiri dan menyaksikannya tergesa-gesa keluar dari bangku kanannya untuk membukakan pintu mobilnya buat saya. Dengan sedikit tersenyum, “silakan, Nyah.” Kata-kata yang paling manis yang pernah saya dengar langsung dari bibirnya dan senada dengan perlakuannya. Sama-sama manis. Bukan atas permintaan saya, tapi ini hadiah bagi saya karena keinginannya. Begitu pun ketika saya harus masuk ke dalam mobil, dia akan mempersilakan saya masuk ke dalam tanpa membuka dan menutup pintu itu sendiri. Sungguh Tuhan Maha Baik dengan saya, selama empat tahun, saya pernah dikirimkan malaikat penjaga yang begitu menyenangkan. Begitu membanggakan dan baik hatinya.

Tetapi bayangan-bayangan kenangan itu harus rusak karena kesalahan saya sendiri. Ketika saya sedang berselancar dengan kenangan, tiba-tiba, “BRAAAAKKK!!”. Saya nutup pintu mobil terlalu kencang. Tetapi bukan itu yang membuyarkan alam pikiran saya, melainkan komentar darinya ketika mendengar pintu itu tertutup dengan kencang. “Ya ampun, Nyah, kenceng banget sih nutup pintu mobilnya? Kaya nutup pintu hati aja,” komentarnya. Lalu saya tersipu, malu.

“Buat kamu, pintu itu emang harus ditutup ekstra kencang. Karena kalau nggak kencang, bakal kebuka lagi-kebuka lagi,” jawab saya. Lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak. Malam ini adalah malam yang harus saya syukuri kehadirannya.

“Aku boleh jujur?” tiba-tiba dia bertanya dalam perjalanan ketika mobil itu sudah melaju beberapa kilometer dari pintu keluar Plasa Senayan.

“Silakan,” jawabku, singkat.

“Aku masih sayang kamu, walaupun aku lihat udah nggak ada lagi sayang buat aku dari kamu.”

“Aduh… Udah deh, nggak usah kamu mulai lagi apa yang udah susah payah kita tutup kemarin. Aku nggak mau ngulang sakitnya dari awal lagi.”

“Iya kita emang udah nggak bisa banget, aku tau. Tapi…”

Saya kemudian buru-buru memotong bicaranya, “ya emang udah nggak bisa Mas, abis gimana dong? Aku nggak kebayang aja kalau harus bertahun-tahun lagi sama kamu, kecewanya bakal sebanyak apa. Ini aja aku baru ketemu lagi sama kamu berapa jam, kamu udah ngecewain aku kan tadi? Makanya, udah yah, gak usah coba bahas-bahas itu lagi.”

“Iya, aku juga gak minta apa-apa. Aku Cuma mau bilang, aku masih sayang sama kamu.”

“Udah ya sayang, udah. Lagian kamu nggak usah khawatir, walaupun kamu bukan pacar aku, tapi aku adalah orang pertama yang bakal bergetar kalau harus denger suara kamu lagi. Aku orang pertama yang bakal berkaca-kaca kalau harus lihat senyum kamu lagi, dan aku akan jadi orang pertama yang nangis waktu aku tau kamu terluka. Aku adalah orang pertama yang kagum dengan hari ini, sebelum kamu. Aku  adalah orang pertama yang jatuh cinta sama kamu malam ini. Dan aku, adalah teman pertama yang akan selalu sayang sama kamu. Masih ada yang kurang dari aku, Mas?”

“No, I just fell in love with our friendship, Love. I love you.”



Dan peluk cium malam itu, menjadi peluk cium terakhir bagi cerita kami kali ini